Pergi ambil air!

Alkisah, seorang anak dikirim oleh keluarganya untuk mempelajari seni perang dari seorang rahib yang dahulu dikenal sebagai jenderal perang yang sangat handal. Namun setibanya di kuil sang rahib, ia menyadari bahwa tidak ada satupun murid di kuil terpencil tersebut selain seorang pesuruh tua renta.
Sang rahib menyambutnya di gapura kuil “Bagus lah, engkau sudah datang, segera letakkan barangmu dan pergi ambil air”
Dengan mengikuti petunjuk si pesuruh, sang murid mengambil air di sumur yang berlokasi cukup jauh dari kuil. Ketika ia sedang dalam perjalanan kembali, sang rahib berjalan mendatanginya, tanpa berhenti sedikitpun ia mengayunkan gagang sapu ke arah si murid, air tumpah kemana-mana, dan sang murid hanya bisa jatuh terduduk dan menganga.
Selama satu tahun lamanya ia mengalami hal tersebut, tanpa ada satu pun latihan jurus, terkadang ia berusaha menghindar namun tetap saja sang rahib bisa menebak kemana ia pergi, hingga akhirnya ia pun pasrah.
Di tahun kedua, serangan semakin menjadi-jadi, ia dijegal, dipukul, ditendang, hingga semua air yang ia bawa tumpah dan ia harus kembali ke sumur untuk mengambil air lagi.
Di tahun ketiga, ia mulai berhasil menghindari serangan gurunya, namun tetap saja ada banyak air yang ia tumpahkan dan ia harus mengambil air lagi.
“Pergi ambil air!” Perintah sang rahib, dan dengan bersungut-sungut ia mengambil ember lalu berjalan menuju lokasi sumur, di tengah jalan ia dihadang, dan dipukul dengan gagang sapu.
Tahun keempat pun tiba, seiring dengan kebiasaan, sang murid mulai bisa mengukur kemampuan sang rahib, ia mulai bisa menghindar, namun air masih bercipratan dan membasahi jubahnya. Hingga akhirnya ia pun muak dan memberanikan diri membentak gurunya “Aku bosan! Kapan engkau akan mengajariku mengayun pedang?!”
Sang rahib terpana, lalu menjawab “Engkau belum siap, bawa embermu dan pergi ambil air” Dan si murid kembali menjalani tahun keempat dengan cipratan air sepanjang jalan kembali menuju kuil.
Di tahun kelima, air yang bercipratan mulai berkurang, tapi kemudian suatu hari sang guru mengejarnya dengan sebilah pisau dapur hingga ia pun lari terbirit-birit.
Di tahun keenam sang murid sadar bahwa jika ia terus menerus berlari maka mereka bertiga di kuil akan kekurangan air, bahkan si pesuruh mulai sakit-sakitan karena kurang minum, hatinya pun tergerak, ia berjanji pada dirinya sendiri akan tetap membawa air ke kuil dan menghadapi apapun yang akan terjadi.
Hari sudah gelap ketika ia kembali dari sumur, dan ia melihat sosok seseorang yang menghunus pedang, berdiri menghadangnya di tengah jalan. Namun dengan tenang ia terus berjalan, hingga ketika jarak diantara mereka tidak lebih dari dua langkah, pedang itu terayun hendak membelah kepalanya. Sang murid meletakkan kedua ember yang ia bawa dengan hati-hati agar tidak ada air yang tumpah, lalu tangannya bergerak mencegah tangan si penyerang sehingga pedang pun terhenti di udara, betapa terkejutnya ia melihat bahwa si penyerang adalah gurunya sendiri! Ia melihat sebentuk senyum dan sang guru berkata “Bawa air itu dan istirahatlah, kita mulai latihan besok”
Hanya butuh waktu setahun bagi sang murid untuk mempelajari semua ilmu yang dipunyai sang rahib. Ia pun kembali ke kampung halamannya. Setibanya di rumah, orang tuanya bertanya “Bagaimana nak? Apa yang sudah engkau pelajari?”
Ia hanya menjawab “Semuanya yang guruku ketahui”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s